Presiden Joko Widodo Terima Pengaduan Dari Nelayan Asal Indramayu, Joni

Presiden Jokowi menerima pengaduan dari Joni. Joni adalah seorang nelayan asal Indramayu. Joni melaporkan bahwa tangkapannya sudah berkurang karena adanya nelayan yang menggunakan “Cantrang.

Selasa, 08 Mei 2018, di Istana Negara, Jakarta Barat, kepada Jokowi, Joni mengatakan, “Keluhan saya sebagai nelayan kecil sangat terganggu dengan Cantrang. Sebelum adanya Cantrang, para nelayan bisa hidup makmur. Setelah ada Cantrang, nelayan kami itu kalau melaut ibaratnya seperti main lotre. Kita berangkat kelaut bawa bekal, pulang belum tentu”

Apa itu Cantrang?
Cantrang merupakan alat tangkap ikan yang dilengkapi dengan dua talik penarik yang panjang dan dikaitkan diujung sayap jaring.  Biasanya lubang pada jaring ini sangat rapat sehingga ikan-ikan kecil yang seharusnya masih harus berkembang biak juga ikut tertangkap.

Alat ini digunakan untuk menjaring jenis ikan Demesral. Jenis ikan ini adalah jenis ikan yang hidup dan makan didasar laut dan danau. Pada umumnya lingkungan pada jenis ikan ini berlumpur, berpasir dan juga bebatuan serta jarang sekali adanya terumbu karang disekitarnya.

Jaring cantrang

Kembali ke masalah keluhan dikeluhkan oleh Joni, Presiden Jokowi sangat setuju dengan apa yang dilontarkan oleh Joni. Menurutnya, penggunaan Cantrang sudah jelas sangat dilarang. Dia meminta para nelayan untuk mulai sportif dengan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.

Presiden Jokowi menambahkan, sebelumnya menteri kelautan Bu Susi sudah sering menyampaikannya terkait dengan penggunaan Cantrang ini jika digunakan dalam waktu yang panjang akan menghabiskan ikan. Jadi itu harus kita sadari sebelum nantinya terlambat mengingat para nelayan yang menggunakan Cantrang sangat banyak. Presiden Jokowi menerima masukan dari Joni untuk menindaklanjuti masalah ini.

Nelayan Perempuan Asal Papua Membuat Presiden Jokowi Takjub

Seorang Nelayan Perempuan asal Mamberamo Papua, Marijen bercerita kepada Presiden Jokowi mengenai hasil tangkapan nelayan. Tangkapan nelayan tersebut bukanlah hanya ikan melainkan juga ada buaya. Hal tersebut pun membuat orang pertama di Indonesia ini merasa takjub.

Selasa, 08 Mei 2018 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Marijen mengatakan, ” Kami disini, kami memounyai 2.000 nelayan yang hampir 80% nelayannya adalah Perempuan. Iya itu nelayan tangkap ikan dan nelayan tangkap buaya”

Mendengar jawaban Marijen, Presiden Jokowi merasa takjub sekaligus terkejut karena hasil tangkapan nelayan perempuan itu selain ikan ternyata adalah buaya.

Presiden Jokowi mengatakan, “Jadi si Mamberamo tidak hanya nangkap ikan, tapi buaya juga? Benar? serem juga. Ada kurang lebih 2000 nelayan tangkap buaya dan 80% semuanya adalah perempuan”

Pembicaraan Merijen tentang nelayan tangkap ikan dan nelayan tangkap buaya kepada Presiden Jokowi. (Photo: detik.com)

Presiden RI ke-7 ini sangat antusias mendengarkan cerita Marijen, Nelayan perempuan tersebut sempat bercerita jika kedatangannya ke Istana Negara hanya untuk menyampaikan Aspiras Nelayan di Mamberamo, Papua. Dirinya juga mengajak Jokowi kelokasi langsung untuk bisa melihat kondisi yang terjadi dilapangan.

Merijen juga menjelaskan, dirinya yang berasal dari Mamberamo mengundang secara resmi Bapak Presiden dan Bu Menteri Kelautan untuk datang langsung melihat kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh nelayan. Saat ini hanya ada satu masalah, kami nelayan dengan air tawar disungai dan disungai itu sungai terbesar di Papua. Saat air pasang naik, semua ikan akan iktu naik ketempat yang lebih tinggi.

Dengan penjelasan tersebut Presiden RI, Joko Widodo akan mencari waktu yang tepat agar bisa mengunjungi Mamberammo. Presiden Jokowi sambil tertawa juga meminta untuk bisa terlibat dalam penangkapan buaya nantinya tetapi harus bersama dengan ibu ibu nelayan.